Menu

Tanggungjawab Hukum Jika Pacar Hamil?

Penulis (Author): Adam Suherman 2020 Jun 16

Permasalahan klasik dari zaman batu hingga kini, adalah siapa yang tanggungjawab bila seorang wanita hamil karena telah melakukan hubungan badan tanpa ikatan yang sah? Dengan alibi bahwa sang pacar berjanji akan bertanggungjawab. Katanya akan menikahi. Katanya akan mencintai. Karena kebanyakan katanya, akhirnya ditinggali. Sementara, embrio bayi sudah bersarang mencari papah-nya. Fenomena ini sangat lazim loh. Bukan saja pada kaum muda, kaum tua pun sering ikut terlibat. Untung kalau dijaga sampai bayinya brojol. Ya kalau digugurkan, aborsi, duh. Bunuh nyawa lagi. Padahal dari awal, sadar atau tidak, si wanita tau kok kalau perbuatan itu salah. 

Setidaknya ada dua pandangan yang coba mengerucutkan kasus pacar yang hamil. Pertama, digiring kepada kasus perdata; dan kedua, digiring pada kasus pidana. Pada pandangan yang pertama, sang pacar dapat dijerat dengan ketentuan wanprestasi. Bahwa sang pacar telah berjanji akan menikahi dan bertanggungjawab terhadap wanita. Bila memperhatikan Pasal 1320 KUHPerdata, syarat sahnya suatu perjanjian diperlukan empat syarat: (1) sepakat mereka yang mengikatkan dirinya; (2) kecakapan untuk membuat suatu perikatan; (3) suatu hal tertentu; (4) suatu sebab yang halal. Dalam kasus pacaran, belum terjadi hubungan hukum sebagai disyaratkan dalam ketentuan pasal 1320 KUHPer tersebut. Maka itu, tidak dapat dijerat wanprestasi.

Hal yang sama ditegaskan dalam Pasal 58 KUHPer yang merumuskan bahwa “Janji kawin tidak menimbulkan hak untuk menuntut di muka hakim berlangsungnya perkawinan, juga tidak menimbulkan hak untuk menuntut penggantian biaya, kerugian dan bunga, akibat tidak dipenuhinya janji itu, semua persetujuan untuk ganti rugi dalam hal ini adalah batal.” Maka, berkaca pada ketentuan ini, sangat sukar untuk memperkarakan pacar anda di pengadilan. 

Meski demikian, ada satu yang dapat menjadi rujukan untuk memperkarakan pacar anda. Hal ini dapat dilihat pada Putusan Mahkamah Agung No. 522K/Sip/1994) dimana Mahkamah Agung pernah menghukum seorang pria atas dasar melakukan Perbuatan Melawan Hukum karena tidak menepati janji untuk menikahi. Dalam kasus ini, tergugat sudah memperkenalkan penggugat sebagai calon istrinya kepada orang lain. Sementara, beberapa dokumen seperti buku tabungan yang diserahkan tergugat kepada pengguat sebagai tanda keseriusannya, menjadi bukti di pengadilan. Bahkan, mereka telah hidup bersama. Namun ketika penggugat menagih janji dinikahi, tergugat justru ingkar. Inilah salah satu yang sering dijadikan rujukan. 

Sementara pada pandangan yang menganggap bahwa ini bisa dikasuskan dalam ranah pidana, mendasarinya sebagai kasus penipuan. Pada Pasal 378 KUHP menegaskan: “Barang siapa dengan maksud untuk menguntungkan diri sendiri atau orang lain secara melawan hukum, dengan memakai nama palsu atau martabat palsu, dengan tipu muslihat, ataupun rangkaian kebohongan, menggerakan orang lain untuk menyerahkan barang sesuatu kepadanya atau supaya memberi hutang maupun menghanguskan piutang, diancam karena peniputan dengan pidana penjara paling lama empat tahun.” 

Pasal ini pernah dijadikan dasar hukum oleh Hakim Bismar Siregar pada Pengadilan Tinggi Medan No. 144/PID/1983/PT Mdn, yang menghukum seorang pria yang menghamili seorang perempuan dengan tuduhan penipuan, dan hukuman tiga tahun penjara. Untuk memenuhi unsur penipuan, Bismar menafsirkan bahwa “kemaluan perempuan” dapat disamakan dengan barang. Namun, Putusan tersebut dibatalkan oleh Mahkamah Agung. Maka demikian, untuk memperkarakannya sebagai kasus penipuan, tidak dapat dijadikan dasar hukum.[1] 

Maka demikian, satu-satunya jalan untuk meminta pertanggungjawaban kepada kekasih anda, wahai perempuan, adalah dengan jalur perdata melalui Perbuatan Melawan Hukum. Hanya itulah jalan terkuat sampai saat ini untuk memperkarakan kekasih anda. Tapi, sebelum terlanjur hamil, dan kebetulan membaca tulisan ini, lebih baik tolak sejak dini bila pasangan anda meminta jatah. Kalau atas alasan penolakan itu kemudian anda diputuskan, jangan galau, biarkan saja. Daripada anda menyesal di belakang hari. Deal yah?

[1] Hukumonline.com, “Langkah Hukum Jika Pacar Tidak Berani Pertanggungjawabkan Perbuatannya”

Penulis (Author): Adam Suherman 2020 Jun 16



Tags

Jangan sungkan untuk bertanya
Forum QnA (Question & Answers) - Gratis !

Forum ini disediakan bagi Anda untuk mengajukan persoalan hukum yang Anda hadapi.
Silahkan tulis pertanyaan dan isi data dibawah ini. Setiap pertanyaan akan dijawab oleh Tim Lawyer Lawgo dan jawabannya akan di publikasikan sebagai artikel hukum bermanfaat.

Artikel Terpopuler