Menu

Pedagang Bakso Ludahi Dagangannya Demi Panglaris

Penulis (Author): Musawwir 2020 Jun 28

Salah satu resep agar bakso terasa lebih nikmat adalah dengan menambahkan ludah. Semakin banyak buihnya, maka semakin sedap rasanya. Resep ini pertama kali dikemukakan oleh penjual bakso cuanki berinisial WS. Menurutnya, bakso dagangannya akan laris jika ia meludahi isi mangkuk bakso yang akan disajikan kepada pelanggan. Kepada pihak Kepolisian WS mengaku, cara itu ia dapatkan dari seorang guru spiritual atau dukun berinisial J di Singaparna, Garut, Jawa Barat. Dalam ajarannya, J menyuruh WS meludahi dagangannya jika ingin laris. [1] Ada yang mau coba baksonya? Atau mau ikutan juga ngasih ludah di bakso terus dijual? Saran aja nih, mendingan gak usah cuy. Untungnya nih yak, ada CCTV yang berhasil merekam perbuatan main ludah-ludahan itu. Ditambah lagi, ada juga pembeli yang melihat perbuatan si pelaku.

Soalnya begini cuy, perbuatan itu sudah dilarang dalam ketentuan perundang-undangan. Kalau tidak percaya, coba lihat Pasal 90 ayat (1) dan (2) Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2012 Tentang Pangan. Pada pasal ini menegaskan, setiap orang dilarang mengedarkan pangan yang tercemar. Pangan tercemar yang dimaksud termasuk mengandung bahan yang kotor, busuk, tengik, terurai, atau mengandung bahan nabati atau hewani yang berpenyakit atau berasal dari bangkai. Pertanyaannya, apakah ludah termasuk sebagai bahan kotor, busuk atau tengik? Nah, silahkan nilai sendiri. 

Sanksinya sendiri diatur dalam Pasal 94 yang menegaskan pelaku perbuatan tersebut diancam dengan sanksi administratif. Karena itu, sanksinya bisa saja berupa denda, penghentian kegiatan, ganti rugi, penarikan pangan (jualan bakso) dari peredaran, dan pencabutan izin. Lebih tegasnya, sanksi tersebut berbunyi:

“Setiap Orang yang melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 86 ayat (2) mengenai pemenuhan standar Mutu Pangan, Pasal 89 mengenai label kemasan pangan, Pasal 90 ayat (1) mengenai Pangan tercemar, dan Pasal 93 mengenai impor Pangan dikenai sanksi administratif.”

Selain itu, perbuatan ludah-ludahan itu juga dilarang dalam Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen. Di sini ditegaskan bahwa pelaku usaha dilarang memproduksi atau memperdagangkan barang/jasa yang tidak memenuhi atau tidak sesuai dengan standar yang dipersyaratkan. Makanan dan minuman itu sejatinya memiliki standar pangan dan mutu. Bila penjual makanan yang tidak memenuhi standar tersebut, maka ia melanggar juga ketentuan dalam Undang-Undang Perlindungan Konsumen. Sanksinya sendiri, diancam dengan pidana penjara paling lama lima tahun atau pidana denda paling banyak dua miliar rupiah.

Jadi, jangan aneh-aneh deh cuy. Untuk penjual, jual bakso mah jual aja. Kaga ada yang larang. Yang penting jangan dikasih ludah yak. Bayangkan bila di dalam ludah itu menjadi awal berpindahnya penyakit ke pada para pembeli. Hayo. Udah merugikan, mencelakai orang lain pula. Imbas yang lebih besar adalah, masyarakat yang telah mengetahui pedagang cuanki tersebut, akan memberi efek kepada penjual bakso cuanki yang lain, misalnya mulai tidak percaya. Sehingga bila ada pedagang bakso cuanki yang lain, di opini masyarakat pasti merujuk pada air ludah. Dan ujungnya adalah, jijik. Kerugian malah lebih besar lagi dampaknya.  
 

[1] Kompas.com, Pengakuan Tukang Bakso Cuanki Ludahi Isi Mangkuk: Supaya Dagangan Laris

Penulis (Author): Musawwir 2020 Jun 28



Tags

Jangan sungkan untuk bertanya
Forum QnA (Question & Answers) - Gratis !

Forum ini disediakan bagi Anda untuk mengajukan persoalan hukum yang Anda hadapi.
Silahkan tulis pertanyaan dan isi data dibawah ini. Setiap pertanyaan akan dijawab oleh Tim Lawyer Lawgo dan jawabannya akan di publikasikan sebagai artikel hukum bermanfaat.

Artikel Terpopuler