Menu

Miris, Bocah 11 Tahun Tertabrak Busway Transjakarta Siapa Yang Harus Bertanggung Jawab

2020 Mar 24

Urusan tabrak-menabrak memang sudah lazim di Ibu Kota. Hampir setiap hari! Iya sih, berkendara di Ibu Kota itu rempongnya minta ampun. Lambat diteriakin, kalau terlalu cepat, duhh, giliran kita yang teriak, “Woiii lelet bet lu.” Untung kalau yang nabrak emak-emak yang doyan weser kanan belok kiri. Itu, biasanya ga terlalu sakit. Sakitnya paling karena si emak tidak bisa disalahkan. Kalau yang nabrak Busway? Jago lu kalau bilang ga sakit. Bisa-bisa nyawa ikut melayang broh. Seperti kejadian bocah 11 tahun yang tertabrak Busway Transjakarta. Ceritanya, bocah berinisial JAP tersebut tertabrak Busway Transjakarta saat tengah berupaya menyeberangi Halte Layur, Jalan Pemuda, Jakarta Timur.[1]

Dalam kondisi itu, kecelakaan tidak bisa dihindarkan karena sopir bus diduga tidak melihat ada orang yang melintas. Area tersebut memang bukan tempat untuk menyeberang bagi pejalan kaki. Korban langsung tewas di lokasi kejadian. Menurut Kasubdit Gakkum Ditlantas Polda Metro Jaya AKBP Fahri Siregar, anak tersebut diduga menyeberang tidak pada tempat/jalurnya. Tapi kan dia kan masih bocah. Tau sendiri namanya bocah cuy. Mandi wajib aja belum bisa doi. Kalau begitu, siapa yang harus bertanggung jawab? 

Untuk menjawab itu, kita merujuk pada Pasal 310 ayat (4) Undang-Undang No. 22 Tahun 2009 Tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan: “Dalam hal kecelakaan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) yang mengakibatkan orang lain meninggal dunia, dipidana dengan pidana penjara paling lama 6 (enam) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 12.000.000,00 (dua belas juta rupiah).[2]

BACA JUGA : Work From Home Harusnya Bagaimana Bagi Perusahaan Swasta?

Merujuk pada ketentuan ini, denda yang dimaksud bukan berarti ganti rugi kepada keluarga atau ahli waris korban, melainkan sebagai sanksi pidana yang harus dibayarkan kepada negara yang diwakili oleh pengadilan. Sementara untuk ahli waris korban, Pasal 235 Undang-Undang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan menyebutkan bahwa bila korban meninggal dunia akibat kecelakaan lalu lintas, maka pihak yang menyebabkan kecelakaan wajib memberikan bantuan kepada ahli waris korban berupa biaya pengobatan dan/atau biaya pemakaman. Meski pemberian bantuan tersebut telah ditunaikan, bukan berarti tuntutan perkara secara otomatis gugur. Hal tersebut akan terus berlanjut di persidangan. 

Tapi harus diperhatikan nih sob, sanksi tersebut baru dapat dijatuhkan bila ada unsur kesengajaan dari pelaku. Kesengajaan di sini bukan dalam artian harfiahnya saja, melainkan pelaku sadar bahwa tindakannya pada awalnya tidak diizinkan untuk mengendarai kendaraan. Misalnya, dalam keadaan mabuk. Karena itu, harus dibuktikan misalnya apakah pelaku ketika menyetir telah mematuhi rambu-rambu lalu lintas, menjalankan bus dengan kecepatan yang diatur dalam undang-undang, dan mengendarai dalam keadaan tidak mengantuk atau mabuk. Bila hal ini tidak dapat dibuktikan, maka pelaku bisa dikatakan tidak lalai atau sengaja. Dengan begitu, pelaku tidak dapat dijatuhi sanksi. 

Singkatnya nih sob, persoalan bocah 11 tahun yang tertabrak Busway Transjakarta, yang harus diperhatikan adalah pada pembuktiannya. Terutama, dalam membuktikan adanya kelalaian atau tidak. Hal ini akan menjawab siapa yang harus bertanggung jawab atas kejadian tersebut. 

 

[1] Cnn.Indonesia, “Bocah 11 Tahun di Rawamangun Tewas Tertabrak Bus Transjakarta” 

[2] Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 Tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. 




Tags

Jangan sungkan untuk bertanya
Forum QnA (Question & Answers) - Gratis !

Forum ini disediakan bagi Anda untuk mengajukan persoalan hukum yang Anda hadapi.
Silahkan tulis pertanyaan dan isi data dibawah ini. Setiap pertanyaan akan dijawab oleh Tim Lawyer Lawgo dan jawabannya akan di publikasikan sebagai artikel hukum bermanfaat.

Artikel Terpopuler