Menu

12 Tahun Disiksa Di Sirkus Hawai, Gajah Ini Ditembak Mati Karena Ingin Kabur

2020 Mar 25

 

Penonton bersorak ria. Gajah yang bobotnya besar, ternyata bisa berdiri dengan dua kaki. “Ini di luar nalar,” ujar salah satu penonton. Terlebih lagi, tepat di atas belalainya, seorang pelatih berdiri sambil menyapa para hadirin. Tapi andai ente tau kawan, di balik hiburan dan keceriaan itu, ada pengorbanan dan ribuan penyiksaan yang tidak hadir saat pertunjukan. Seperti yang terjadi di Circus International of Honolulu di Hawai, seekor gajah yang ditembak mati karena ingin kabur. 

Dikisahkan, gajah bernama Tyke itu, merupakan gajah hutan Afrika dari Mozambik. Selama 12 tahun di Sirkus Hawai, akhirnya ia menunjukkan perlawanan atas penyiksaannya dengan cara ingin kabur. Ia lari ke pintu selama pertunjukan di Neal S. Blaisdell Center dekat pusat kota Honolulu setelah membunuh pelatihnya dan melukai perawatnya. Selama lebih dari 30 menit, dia berlari melalui jalan-jalan, hingga akhirnya polisi setempat membunuhnya dengan 86 peluru bersarang di tubuhnya. Saat Tyke terungkur ke tanah, matanya merah darah dan ekspresi ketakutannya tersirat jelas di wajahnya.[1]

Kejadian ini menjadi pertunjukan bagi masyarakat dunia, bahwa di balik keceriaan yang disajikan, terdapat kepedihan yang luar biasa dialami oleh Gajah. Menurut Direktur Investigasi Scorpio Wildlife Monitoring Group, Marison Guciano, hewan-hewan yang diberikan pelatihan mendapat penyiksaan dan merenggut kebebasan mereka. 

Marison menyebut, ada tiga sebab mengapa hewan menaati setiap perintah sang pelatih, yaitu: lapar, takut dan sakit. Itulah alasan mengapa pelatih membawa makanan di panggung pertunjukan, tujuannya tidak lain untuk memaksa gajah melakukan atraksi. Sementara alasan kedua dan ketiga, saling berhubungan. Bahwa gajah akan mengikuti perintah pelatih karena terbayang kesakitan yang diterimanya selama pelatihan. Cambuk, angkusa, rantai, dan semua peralatan yang digunakan pelatih menyisakan trauma dan rasa sakit pada si gajah. Karena alasan-alasan itulah mereka menuruti setiap perintah sang pelatih.[2] Melihat kejadian itu, apakah ada ketentuan yang mengatur tentang penyiksaan terhadap binatang? 

Menjawab pertanyaan itu kita dapat merujuk pada dua ketentuan perundang-undangan: Pertama, Pasal 66 ayat (2) huruf (c) Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2009 Tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan yang menegaskan:[3]

“Pemeliharaan, pengamanan, perawatan, dan pengayoman hewan dilakukan dengan sebaik-baiknya sehingga hewan bebas dari rasa lapar dan haus, rasa sakit, penganiayaan dan penyalahgunaan, serta rasa takut dan tertekan.” Yang dimaksud dengan penganiayaan adalah tindakan untuk memperoleh kepuasaan dan/atau keuntungan dari hewan dengan memperlakukan hewan di luar batas kemampuan biologis dan fisiologis hewan.

Kedua, Pasal 92 huruf (a) dan (d) Peraturan Pemerintah Nomor 95 Tahun 2012 Tentang Kesehatan Masyarakat Veteriner dan Kesejahteraan Hewan yang menegaskan:[4] “Setiap orang dilarang untuk: (a) menggunakan dan memanfaatkan hewan di luar kemampuan kodratnya yang dapat berpengaruh terhadapan kesehatan, keselamatan, atau menyebabkan kematian hewan; (d) memanfaatkan kekuatan fisik hewan di luar batas kemampuannya.”

Apa yang dilakukan oleh pelatih sirkusi jelas merupakan tindakan yang keliru. Selain melakukan pemaksaan terhadap gajah agar melakukan sesuatu di luar kodratnya, juga karena mengambil keuntungan dari penganiayaan terhadap gajah tersebut. Bagaiamanapun, hewan merupakan makhluk yang patut diberi penghormatan atas kehidupannya. Sebab, hewan juga memiliki batas-batas tertentu yang membuatnya melakukan tindakan yang di luar dugaan seperti membunuh pelatihnya sendiri. Karenanya, wajar setelah 12 tahun disiksa di Sirkus Hawai, sang Gajah mencoba kabur. Ya gimana sih, manusia yang terus disiksa, pasti akan melakukan pemberontakan. Begitu juga dengan gajah.
 

[1] Intisari.grid.id, “3 Akhir Tragis Hewan Sirkus, Dihabisi Dengan Cara Keji Hanya Karena Memberontak Dari Siksaan.”

[2] Nasional.kompas.com, “Berbagai Alasan Sirkus Hewan Masih Ditemukan, Salah Satunya Regulasi Lemah” 

[3]  Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2009 Tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan

[4] Peraturan Pemerintah Nomor 95 Tahun 2012 Tentang Kesehatan Masyarakat Veteriner dan Kesejahteraan Hewan




Tags

Jangan sungkan untuk bertanya
Forum QnA (Question & Answers) - Gratis !

Forum ini disediakan bagi Anda untuk mengajukan persoalan hukum yang Anda hadapi.
Silahkan tulis pertanyaan dan isi data dibawah ini. Setiap pertanyaan akan dijawab oleh Tim Lawyer Lawgo dan jawabannya akan di publikasikan sebagai artikel hukum bermanfaat.

Baca Juga Artikel Terkait

Artikel Terpopuler